Target IPO 2026, Harga Saham Inalum Diharapkan Terjangkau

Picture of merdekainvestama

merdekainvestama

JAKARTA, KOMPAS — Valuasi harga saham perusahaan negara PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum saat mencatatkan saham perdana melalui mekanisme initial public offering atau IPO kelak diharapkan bisa dijaga agar tidak terlalu tinggi. Ini perlu dilakukan untuk memberikan ruang keuntungan bagi investor, dari selisih positif pertumbuhan harga.

Hal tersebut disampaikan ekonom dan pengamat pasar modal Lucky Bayu Purnomo saat dihubungi Minggu (9/2/2025). Ia menanggapi keterangan resmi yang disampaikan PT Mineral Industri Indonesia Persero atau Mind Id, induk dari Inalum. Perusahaan terindikasi akan melepas saham dengan nilai tinggi dengan mempercantik equity story atau kisah ekuitas.

Equity story merupakan ringkasan dari strategi perusahaan yang ditunjukkan dalam rencana bisnis, yang dirancang untuk ditujukan kepada investor. Dokumen ini berisi informasi tentang keberhasilan perusahaan di masa lalu, model bisnis, dan tujuan masa depan aksi korporasi, yang menjelaskan alasan mengapa investor harus membeli saham perusahaan.

”Sebaiknya jangan berpandangan bahwa karena sudah ada emiten-emiten IPO yang terafiliasi, lantas harga valuasi yang berakibat nominal harga saham Inalum itu pada saat IPO itu mahal dan tinggi. Sebaiknya itu IPO dengan kondisi fair value,” ujar Lucky.

Selain Inalum, holding BUMN pertambangan Mind Id juga beranggotakan empat perusahaan lainnya, yakni PT Antam Tbk, PT Bukit Asam (BA) Tbk, PT Timah Tbk, dan PT Freeport Indonesia. Dengan melakukan pelepasan saham perdana, Inalum akan menjadi emiten anggota holding Mind Id keempat setelah Antam, Bukit Asam, dan Timah.

Menurut Lucky, baik investor ritel maupun investor institusi saat ini telah mempelajari secara historis bagaimana pergerakan harga saham emiten pertambangan dalam beberapa tahun terakhir. Harga saham perdana yang terlalu tinggi cenderung hanya memiliki ruang yang kecil untuk pertumbuhan nilai valuasi.

Harga saham Inalum yang terbentuk saat pelepasan saham perdana diharapkan bisa menjadi representasi nilai fundamental, termasuk nilai aset dari perusahaan. Kendati demikian, lanjut Lucky, harga saham perdana perlu ditekan untuk menciptakan ruang pertumbuhan demi keberlangsungan transaksi secara berkelanjutan.

”Jadi pada saat pertama kali listing, maka sebaiknya buatlah harga wajar. Kalau perlu, under value agar menarik investor sehingga kenaikan (harga saham) nantinya menjadi kenaikan yang bersahaja,” katanya.

Terkait momentum, Lucky menilai tahun 2025 akan menjadi tahun yang tepat bagi Inalum untuk melakukan pencatatan saham perdana di BEI melalui mekanisme IPO. Hal ini mengingat sepanjang tahun 2024 sentimen investor terhadap emiten sektor pertambangan dan energi tengah positif akibat kinerja harga saham yang baik.

Rencana IPO 2026

Sebelumnya, Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha Mind Id Dilo Seno Widagdo mengatakan, IPO Inalum termasuk dalam rencana jangka panjang perusahaan (RJPP) untuk 2026-2027.

Sementara untuk tahun ini perusahaan tengah fokus pada peningkatan kapasitas smelter aluminium dan pengembangan proyek-proyek strategis untuk mempercantik equity story yang menjadi salah satu landasan penetapan harga saham.

Kisah ekuitas yang baik dapat membantu investor memahami masa depan perusahaan dan membuat keputusan investasi yang tepat. Dalam persiapan IPO, Mind Id ingin memastikan bahwa Inalum memiliki kinerja yang baik serta prospek bisnis yang progresif sebelum memasuki pasar saham. Dengan begitu, perseroan membuka peluang bagi investor dalam pengembangan proyek strategis.

”Mind Id sedang menyusun equity story yang kuat untuk Inalum. Kami tidak ingin IPO Inalum hanya sekadar melepas saham, tetapi juga membawa nilai tambah bagi investor dan industri nasional,” ujar Dilo dalam keterangan resmi.

Saat ini Inalum fokus pada peningkatan kapasitas smelter aluminium dan pengembangan proyek-proyek strategis, termasuk pembangunan smelter kedua. Kapasitas smelter Inalum di Kuala Tanjung saat ini mencapai 275.000 ton per tahun, sementara kebutuhan aluminium domestik diperkirakan mencapai 1,2 juta ton per tahun.

”Kami menargetkan peningkatan kapasitas smelter aluminium hingga tiga kali lipat, mendekati 1 juta ton per tahun. Ini akan memenuhi kebutuhan domestik dan memperkuat posisi Inalum sebagai pemain utama di industri aluminium nasional dalam mendukung swasembada,” papar Dilo.

Dilo menuturkan, Inalum akan menjadi bagian integral dalam rantai pasok industri baterai dan kendaraan listrik nasional. Strategi ekspansi Inalum ini juga mendukung program utama pemerintah, yaitu hilirisasi dan juga Astacita Presiden Prabowo.

Sementara itu, anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Sartono Hutomo, menekankan pentingnya mempertimbangkan kinerja, kondisi keuangan, hingga portofolio BUMN sebelum menjalankan mekanisme IPO. Menurut dia, perlu kehati-hatian dalam memutuskan perusahaan BUMN yang benar-benar siap untuk menjadi perusahaan publik.

”Harus dilihat juga bagaimana kinerja perusahaan. Evaluasi dari IPO beberapa BUMN yang sudah-sudah di mana ketika melantai di bursa, valuasinya justru jauh dari ekspektasi,” ujar Sartono lewat keterangan tertulis.